The Boy in The Striped Pyjamas

poster diambil dari http://www.impawards.com

Lagi2 resensi film lama yang nontonnya juga uda lama banget.. Haha, makluuum, pulang diklat 3 minggu langsung disambut lembur gila2an di kantor, jadi belom sempat nonton film apa2 (terakhir nonton Harpot Hallows di bioskop 2 minggu yang lalu..). Mungkin beberapa diantara kalian uda ada yang pernah nonton film ini, tapi aku yakin, sebagian pasti ada juga yang belom.

Dulu, pas pertama kali mo nonton film ini, pertimbangan pertamanya bukan karena sinopsisnya yang menarik, tapi karena posternya yang mencolok mata (-ku). Coba deh kalian liat poster diatas. Disitu ada gambar 2 anak kecil yang duduk saling berhadapan tapi terpisah oleh kawat berduri. Mungkin karena sebelum nonton filmnya aku uda bolak2 ngeliat posternya makanya aku ngerasa ada sesuatu yang ganjil sama si bocah gundul (dan di filmnya emang terbukti tuh..). Oia, jangan lupa perhatiin juga tagline filmnya: lines may divide us, but hope will unite us, pas banget tuh sama gambar posternya.

Anyway, film rilisan taon 2008 ini bercerita tentang kehidupan keluarga seorang tentara Jerman yang baru aja dipromosikan jadi komandan camp konsentrasi Nazi. Pak komandan dan keluarganya ini diharuskan untuk pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan camp yang harus ia jaga. Tentu aja ini bukan hal yang mudah untuk istri dan anak2nya, secara di tempat yang baru itu mereka gak punya tetangga sama sekali. Bahkan untuk sekolah pun, kedua anaknya sampe harus manggil guru ke rumah. Nah, suatu hari, Bruno ~anak bungsu pak komandan~ jalan2 di sekitar rumah dan gak sengaja menemukan lokasi camp Nazi. Disana Bruno ketemu sama anak kecil yang seumuran dengan dia. Gak kebayang gimana senengnya si Bruno ketemu teman baru, apalagi sejak awal pindah rumah, bapaknya uda mewanti2 untuk gak pergi kemana2.

Tiap hari Bruno selalu mengendap2 untuk bisa ketemu Shmuel ~nama si teman baru itu. Dan dari hari ke hari, hubungan pertemanan kedua bocah itu makin erat. Shmuel banyak bercerita tentang dirinya, tentang piyama garis yang dia pake, tentang kawat berduri yang memisahkannya dengan Bruno, tentang kenapa Shmuel gak bisa keluar dari kawat itu dan kenapa Bruno juga gak bisa masuk ke dalamnya. Sebaliknya, Bruno juga bercerita tentang situasi yang terjadi di luar sana. Yah, namanya juga anak kecil, makin dilarang makin penasaran dia. Makanya suatu hari, si Bruno memutuskan untuk gabung sama Shmuel masuk ke dalam camp konsentrasi. Gak ada yang curiga kalo anak pak komandan itu ikut masuk ke dalam camp, secara sebelumnya Bruno uda dipinjemin piyama garis sama Shmuel. Sayangnya, Bruno masuk ke camp itu bukan di saat yang tepat. Hanya beberapa saat setelah dia masuk, ruangan tempatnya berada uda penuh dengan Zyklon B ~gas beracun yang biasa dipake Nazi untuk membunuh tawanan pas jaman Holocaust dulu. Hmm, akankah nasib Bruno sama dengan tawanan Nazi lainnya? Atau malah sebaliknya, Bruno bisa menyelamatkan mereka yang ada di camp itu ~termasuk Shmuel?

  1. No trackbacks yet.

You must be logged in to post a comment.
%d bloggers like this: